Home → Berbagilah, Meski Sebatas Obrolan!

Berbagilah, Meski Sebatas Obrolan!

Kamis, 25 Desember 2014
Jadilah tangan yang mengulur. Jadilah telinga yang mendengar. Jadilah tutur yang bisa membangkitkan harapan dan optimisme. Jadilah manusia yang memanusiakan. Menjadi insan yang selalu mensyukuri nikmat sekecil dan sesederhana apapun itu. Berbagilah, meski itu hanya obrolan dan tanya kabar. Karena lewat hal yang acap kita pandang sepele, kita belajar menjadi bagian dari sesama. Menjadi sesama yang tak pandang label atau status sosial. Itulah sederet nasihat sederhana tapi mengena dari seorang teman yang saya terima siang menjelang sore, kala langit mendung menjelang hujan via blackberry messenger.
ngobrol di warung kopi
Ngobrol di Warung Kopi
Benar saja hujan turun. Cukup deras. Bahkan sesekali geledek terdengar nyaring. Saat hujan, apalagi dengan deras, kebiasaan untuk merenung sejenak sulit untuk ditampik. Namun memang merenung barang beberapa menit sangat diperlukan. Katakanlah itu sekedar cara sederhana untuk kontemplasi dan refleksi. Di temani segelas kopi pengusir hawa dingin yang dibawa semilir angin berbaur serpihan tipis lidah hujan, pikiran menerawang, mengingat-ngingat jejak dan laku yang sudah terlewat.
Duduk di sebelah saya, Pak Wawan, lelaki tua yang ramah asal dari salah satu kabupaten di Jawa Barat. Karena hujan cukup deras, saya ‘terpaksa’ mesti menepi ke pinggir jalan, berteduh di sebuah kios rokok sederhana. Untungnya, kios rokok milik Pak Wawan, menyediakan kopi seduh. Maka, prosesi kontemplasi sembari menunggu hujan pun terjadi. ” Berbagilah, meski itu hanya sebatas obrolan,” sepenggal nasihat itu kembali terngiang.
Saya lihat wajah Pak Wawan, seperti sedang tapakur. Mulutnya nampak komat-kamit. Tangannya seperti sedang menghitung sesuatu. Oh, mungkin beliau sedang berdzikir. Ah, lelaki yang religius sepertinya. Sempat ada ragu untuk memulai obrolan. Takut menganggu. Tapi nasehat sang kawan kembali terngiang jelas. Maka dengan hati-hati saya mencoba mengawali obrolan. Intinya menanyakan, dan mengenalkan diri.
Ternyata, mujarab, Pak Wawan antusias menyambut. Dari obrolan itu pun, nama Pak Wawan bisa saya ketahui. Asal usul, umur, istri sampai jumlah anak pun meluncur di tutur Pak Wawan. Ternyata, ia satu kabupaten dengan saya, kabupaten Kuningan, salah satu kabupaten di Jawa Barat. Hanya saya dan dia, berbeda kecamatan, yang berjarak cukup jauh. Mungkin karena merasa satu ‘kampung’, Pak Wawan nampak begitu gembira. Seakan saya ini adalah tetangga sebelah rumahnya. Ia pun tanpa diminta, banyak bercerita. Suka duka selama di Jakarta ia kisahkan dengan runut.
Saya pun jadi pendengar yang baik yang sesekali ikut menimpali ceritanya. Obrolan pun sudah seperti antar dua kawan karib yang lama tak bersua. Saya pun, sampai harus bercerita tentang gula darah saya yang naik. Tanpa diminta, ia memberi solusi alternatif. Katanya, pakai bunga pepaya saja pak, di giling halus (diblender), lalu airnya diminum. Atau kalau zaman sekarang di jus. “Tetangga saya ada yang minum itu rutin pak, Alhamdulillah gula darahnya turun,” kata Pak Wawan.
Selain bunga pepaya, Pak Wawan juga memberi ‘obat alternatif lain’. Minum rebusan kayu manis, katanya. Di minum segelas saat mau tidur, dan segelas lagi kala sudah bangun tidur. Selain rebusan kayu manis, ia juga menginformasikan rebusan daun sambiloto yang katanya juga bisa ‘mengurangi’ gula darah. Dan yang membuat saya terkesiap, ia menawarkan bantuan membawakan bunga pepaya dan daun sambiloto. Katanya, di kampung dia, bunga pepaya dan daun sambiloto mudah didapat, karena tanamannya banyak tumbuh di sana. Kebetulan, dua hari lagi menantunya akan datang ke Jakarta, menggantikannya berdagang. Ia dagang menunggu kios dengan sistem aplusan. Dua hari lagi tiba giliran menantunya menunggu kios. Tanpa diminta, ia langsung mengambil handphonenya yang sudah terlihat jadul. Dan, mengetik pesan pendek.
Sampai kemudian, terdengar bunyi pesan pendek masuk ke hape Pak Wawan. Ia pun langsung berkata, ” Pak, nanti menantu saya, Insya Allah akan bawa kembang pepaya dan daun sambiloto. Bapak kesini lagi nanti dua hari lagi.”
Mendengarnya saya hanya tercenung. Kaget, haru dan gembira. Pikiran berkecamuk.“Ah, betapa mudahnya Pak Wawan, seorang pedagang kecil, mengulurkan bantuan, bahkan tanpa diminta.”
Saya pun menjawab, dua hari lagi saya pasti akan mampir ke kios rokoknya. Sambil saya menanyakan, berapa saya harus membayar, bunga pepaya dan daun sambiloto yang akan dibawa menantunya untuk saya. Pak Wawan menggeleng. “Tidak usah bayar pak. Saya senang kalau gula darah bapak nanti bisa sembuh. Ya kita kan harus saling tolong menolong. Lagian, di kampung saya banyak pak, daripada tak dimanfaatin, lebih baik diberikan pada yang membutuhkan. Apalagi dengan orang sekampung he.he.he,” kata Pak Wawan. Mendengarnya benar-benar saya sangat terharu. Berulang kali, saya ucapkan terima kasih.
Ah, kawan saya sangat benar. Berbagilah meski itu hanya sebatas obrolan.Uluran saya untuk mengajaknya berbagi obrolan, berbuah balasan yang sangat berharga, pengetahuan yang tak pernah saya duga-duga. Bahkan, dari obrolan, selain saya mendapat ‘sahabat’ baru, juga uluran pertolongan, Pak Wawan akan mencarikan saya bunga pepaya dan daun sambiloto. Tidak hanya itu, ia menyuruh menantunya untuk membawakan itu.
Terima kasih Pak, Anda sahabat, teman sekampung dan juga keluarga saya. Saya tak pernah melupakan kebaikan bapak. Dua hari lagi saya akan ke sana, sambil berpikir, oleh-oleh apa yang pantas dibawa orang sebaik Pak Wawan pulang ke kampungnya.
Jakarta, setelah diguyur hujan deras, 23 Desember 2014.
Tag »

0 Komentar Untuk "Berbagilah, Meski Sebatas Obrolan!"

Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Terimakasih atas komentar Anda di "Berbagilah, Meski Sebatas Obrolan!"